![]() |
| Ayo Jujur! |
Dari Ibnu
Syihab, dari Abdurrahman bin Abdullah bin Ka'ab bin Malik, diriwayatkan, bahwa
Abdullah bin Ka'ab bin Malik dia adalah penuntun Ka'ab dari anak-anaknya saat
Ka'ab menjadi buta berkata: "Saya mendengar Ka'ab bin Malik bercerita tentang
kisahnya saat tidak ikut dalam perang Tabuk.
Ka'ab bercerita, 'Saya tidak pernah absen dalam peperangan yang
dipimpin oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali perang
Tabuk. Hanya saja, saya juga tidak ikut dalam perang Badar, tapi Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menegur orang-orang yang absen saat
itu. Sebab Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam saat itu hanya ke
luar untuk mencegat kafilah onta yang membawa dagangan kaum Quraisy. Dan tanpa
ada rencana sebelumnya, ternyata Allah Subhanahu wa Ta'ala memper-temukan
kaum muslimin dengan musuh mereka. Tapi saya pernah ikut bersama Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam pada malam (Baiatul) Aqabah, saat
itu kami mengadakan janji setia terhadap Islam. Dan peristiwa ini lebih saya
senangi ketimbang peristiwa perang Badar, walaupun perang Badar itu lebih sering
dikenang oleh banyak orang!'
Sehubungan dengan perang Tabuk, ceritanya begini. Saya tidak
pernah merasa lebih kuat secara fisik dan lebih mudah secara ekonomi ketimbang
saat saya absen dalam perang itu. Demi Allah, saya tidak pernah punya dua
kendaraan (kuda), tetapi ternyata saat perang itu saya bisa mempunyai dua
kendaraan. Sebelum Tabuk, bila Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
mengajak para sahabat untuk perang, biasanya beliau selalu tidak menerangkan
segala sesuatunya dengan jelas dan terang-terangan. Tetapi dalam perang ini,
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berterus terang kepada para
sahabat. Sebab, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam akan
melangsungkan peperangan ini dalam kondisi cuaca yang sangat panas. Beliau akan
menempuh perjalanan yang jauh, melalui padang pasir yang begitu luas. Dan beliau
juga akan menghadapi musuh dalam jumlah besar. Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam menjelaskan semua ini pada para sahabat. Saat itu, jumlah kaum
muslimin memang banyak. Tidak ada catatan yang menyebutkan nama-nama mereka
secara lengkap.'
Ka'ab berkata, 'Dari saking banyaknya, sampai-sampai tak ada
seorang pun yang ingin absen saat itu kecuali dia menyangka tidak akan diketahui
selagi wahyu tidak turun dalam hal ini.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melangsungkan
perang Tabuk itu di saat buah-buahan dan pohon-pohon yang rindang tumbuh dengan
suburnya. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan kaum
muslimin telah bersiap-siap, hampir saja saya berangkat dan bersiap-siap dengan
mereka. Tapi ternyata saya pulang dan tidak mem-persiapkan apa-apa. Saya berkata
dalam hati, 'Saya bisa bersiap-siap nanti.' Begitulah, diulur-ulur, sampai
akhirnya semua orang sudah benar-benar siap. Di pagi hari, Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam telah berkumpul bersama kaum muslimin untuk
berangkat. Tetapi saya tetap belum mempersiapkan apa-apa. Saya berkata, 'Saya
akan bersiap-siap sehari atau dua hari lagi, kemudian saya akan menyusul mereka
setelah mereka berangkat.' Saya ingin bersiap-siap, tapi ternyata saya pulang
dan tidak mempersiapkan apa-apa. Begitulah setiap hari, sampai akhirnya pasukan
kaum muslimin benar-benar sudah jauh dan perang dimulai. Saat itu saya ingin
berangkat untuk menyusul mereka, tapi sayang, saya tidak melakukannya. Saya
tidak ditakdirkan untuk berangkat.
Setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan
kaum muslimin keluar dari kota Madinah, aku keluar dan berputar-putar melihat
orang-orang yang ada. Dan yang menyedihkan, yaitu bahwa saya tidak melihat
kecuali yang dicurigai sebagai munafik atau orang lemah yang memang mendapat
keringanan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sementara itu, Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menyebut-nyebut saya sampai beliau
tiba di Tabuk. Di sana, beliau duduk-duduk bersama para sahabat dan ber-tanya,
'Apa yang diperbuat Ka'ab?' Ada seseorang dari Bani Salamah yang menyahut, 'Ya
Rasulullah, dia itu tertahan oleh pakaiannya dan bangga dengan diri dan
penampilannya sendiri.' Mendengar itu Muadz bin Jabal berkata, 'Alangkah
jeleknya apa yang kamu katakan. Demi Allah ya Rasulullah, kami tidak mengetahui
dari Ka'ab itu kecuali kebaikan.' Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam diam.'
Ka'ab melanjutkan ceritanya, 'Ketika saya mendengar bahwa
beliau bersama pasukan kaum muslimin menuju kota Madinah kembali, saya mulai
dihinggapi perasaan gundah. Saya pun mulai berfikir untuk berdusta, saya
berkata, 'Bagaimana saya bisa bersiasat dari kemarahan Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam besok?'
Untuk itu, saya minta bantun saran dari keluarga saya. Setelah
ada informasi bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sudah mulai
masuk kota Madinah, hilanglah semua kebatilan yang sebelumnya ingin saya
utarakan.
Saya tahu, bahwa tidak mungkin saya bisa bersiasat dari
kemarahan beliau dengan berdusta. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam telah tiba, dan biasanya bila beliau tiba dari suatu perjalanan,
pertama kali beliau masuk ke masjid, lalu shalat dua rakaat, kemudian
duduk-duduk menemui orang-orang yang datang.
Setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam duduk,
berdatanganlah orang-orang yang tidak ikut berperang menemui beliau. Mereka
mengajukan berbagai macam alasan diikuti dengan sumpah jumlah mereka lebih dari
80 orang- Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menerima mereka secara
lahir dan membai'at mereka serta memin-takan ampunan. Adapun rahasia-rahasia
hati, semuanya beliau pasrahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Saya pun datang menemui beliau dan mengucapkan salam. Beliau
tersenyum sinis, kemudian berkata, 'Kemarilah!' Saya berjalan sampai duduk di
hadapan beliau. Lalu beliau bertanya, 'Apa yang membuatmu tidak ikut serta?
Tidakkah kau sudah membeli kendaraanmu?' Saya jawab, 'Ya benar. Demi Allah,
sekiranya aku sekarang duduk di hadapan orang selain engkau dari seluruh
pendu-duk dunia ini, tentu aku bisa selamat dari kemarahannya dengan
mengemukakan alasan tertentu. Aku telah di-karuniai kepandaian berdiplomasi.
Akan tetapi, demi Allah, aku yakin, kalau hari ini aku berdusta kepada engkau
dan engkau rela menerima alasanku, niscaya Allah akan mena-namkan kemarahan diri
engkau kepadaku. Dan bila aku berbicara jujur kepada engkau, maka engkau akan
menjadi marah karenanya. Sesungguhnya aku mengharapkan pengampunan dari Allah
Subhanahu wa Ta'ala . Tidak, demi Allah, sama sekali saya tidak mempunyai
alasan apa pun secara fisik dan lebih lapang secara ekonomi daripada saat aku
tidak ikut serta dengan engkau.' Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam berkata, 'Orang ini telah berkata jujur, bangun dan pergilah sampai
Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan keputusan dalam masalahmu ini!' Saya
pun berdiri dan pergi. Saat itu orang-orang dari Bani Salamah mengikutiku,
mereka berkata, 'Demi Allah, kami tidak pernah mengetahui bahwa engkau pernah
berbuat kesalahan sebelum ini. Mengapa engkau tidak mengajukan kepada Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam alasan-alasan seperti yang dilakukan orang
lain yang juga tidak ikut? Dan dosamu nanti akan hilang dengan istighfar
(per-mintaan ampun) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untukmu.'
Mereka terus menerus mencerca saya sampai-sampai saya sempat berfikir untuk
kembali kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan meralat
pem-bicaraan saya yang pertama. Kemudian saya bertanya pada mereka, 'Adakah
orang yang mendapatkan perlakuan sama denganku?' Mereka menjawab, 'Ya, ada dua
orang lagi yang mengatakan seperti apa yang kau katakan dan mendapat-kan jawaban
seperti jawaban yang kau terima.' Saya ber-tanya lagi, 'Siapa mereka?' Mereka
menjawab, 'Murarah bin Ar-Rabi' Al-Amry dan Hilal bin Umayyah Al-Waqify.' Mereka
menyebutkan nama dua orang yang pernah ikut perang Badar dan mereka bisa
dijadikan anutan. Setelah mendengar dua nama yang mereka sebutkan itu saya terus
pergi.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu melarang
kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga di antara orang-orang yang tidak
ikut bersama beliau. Akibatnya, orang-orang semua meninggalkan kami dan sikap
mereka pun berubah, bahkan dunia ini pun seolah juga berubah, tidak sama dengan
dunia yang saya kenal sebelumnya.
Kami merasakan hal demikian selama 50 hari. Selama itu, dua
teman senasib saya hanya berdiam diri dan duduk di rumah masing-masing sambil
menangis. Berbeda de-ngan saya, saya termasuk yang paling muda dan paling kuat
menahan ujian ini. Saya pergi keluar dan ikut shalat berjamaah, tetapi tidak ada
satu pun yang mau berbicara dengan saya. Saya datangi Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam dan saya ucapkan salam kepada beliau saat berada di tempat
duduknya seusai shalat. Saya berkata dalam hati, 'Adakah Rasulullah menggerakkan
kedua bibirnya untuk menjawab salamku atau tidak?!' Kemudian saya shalat di
dekat beliau, saya mencuri pandangan. Saat saya sedang shalat, Rasulullah
melihat kepada saya. Tapi bila saya menoleh kepadanya, beliau berpaling dari
saya. Setelah cukup lama orang-orang meninggalkan saya, suatu saat saya pergi
memanjat dinding kebun Abu Qatadah dia adalah sepupu saya dan termasuk orang
yang paling saya cintai. Saya mengucapkan salam kepadanya, tetapi demi Allah dia
tidak menjawab salam saya. Saya berkata, 'Wahai Abu Qatadah! Demi Allah aku
bertanya, adakah engkau tahu bahwa aku ini mencintai Allah dan RasulNya?' Dia
diam saja. Saya kembali bertanya tapi dia tetap diam. Saya bertanya sekali lagi,
akhirnya dia juga menjawab, 'Allah dan RasulNya sendiri yang lebih tahu.' Air
mata saya berlinang dan saya kembali memanjat dinding itu lagi.
Ketika saya berjalan di pasar Madinah, tiba-tiba ada se-orang
bangsawan dari Syam. Dia termasuk para pedagang yang datang membawa makanan
untuk dijual di Madinah. Dia berkata, 'Siapa yang dapat menunjukkan di mana
Ka'ab bin Malik?'
Orang-orang yang ada di situ menunjukkannya. Setelah dia
mendatangi saya, dia menyerahkan pada saya sebuah surat dari Raja Ghassan. Dalam
surat itu tertulis, 'Aku telah mendengar bahwa kawanmu (yaitu Nabi Muhammad)
telah meninggalkanmu, sementara engkau tidaklah dijadikan oleh Allah berada pada
derajat yang hina dan terbuang. Datanglah kepada kami, kami akan menghiburmu.'
Setelah membaca surat itu saya bergumam, 'Ini termasuk rangkai-an ujian Allah.'
Lalu saya bawa surat itu ke tungku dan membakarnya.
Setelah berlalu 40 hari dari total 50 hari , utusan Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam datang kepada saya. Katanya, 'Sesungguhnya
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyuruhmu untuk menjauhi
isterimu!' Saya bertanya, 'Apakah saya harus menceraikannya atau bagaimana?',
dia menjawab, 'Tidak, jauhilah dia dan janganlah kau mende-katinya'. Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam juga me-ngirimkan utusan beliau kepada dua
rekan senasib saya. Maka saya meminta pada isteri saya, 'Pergilah kau ke tem-pat
keluargamu. Menetaplah di sana sampai Allah Subhanahu wa Ta'ala
memutuskan masalah ini!'
Ka'ab berkata, 'Isteri Hilal bin Umayyah datang menemui
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dia berkata, 'Wahai Rasulullah,
Hilal bin Umayyah itu sudah tua renta, dan dia tidak mempunyai pembantu. Apakah
engkau keberatan bila aku melayaninya?' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam menjawab, 'Tidak, tetapi jangan sampai dia mendekatimu!' Isterinya
menjawab, 'Demi Allah, dia sudah tidak bisa bergerak lagi dan dia masih tetap
menangis sejak dia mempunyai masalah ini sampai hari ini juga.' Sementara itu
sebagian keluarga saya berkata, 'Bagaimana sekiranya engkau juga minta izin
kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam masalah isterimu,
agar dia bisa melayanimu seperti isteri Hilal bin Umayyah.' Tetapi saya
menjawab, 'Demi Allah, dalam masalah ini aku tidak akan minta izin kepada
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Aku tidak tahu apa yang akan
dikatakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bila aku minta
izin kepada beliau, sementara aku ini masih muda?!'
Saya berada dalam kondisi demikian selama sepuluh malam,
sehingga jumlahnya 50 malam dari mulai pertama kali Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam melarang orang untuk berbicara pada kami. Pada hari yang
ke-50, saya menghadiri shalat Subuh, setelah itu saya duduk-duduk, sementara
kondisi saya persis seperti yang digambarkan oleh Allah Subhanahu wa
Ta'ala, diri sendiri terasa sempit, begitu juga bumi yang luas ini terasa
sempit bagi saya. Saat saya duduk dalam keadaan demikian, tiba-tiba saya
mendengar suara orang yang berteriak dengan lantang di atas bukit, 'Wahai Ka'ab,
bergembiralah!' Saat itu juga saya langsung sujud, saya tahu bahwa masalah saya
akan berakhir. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengumum-kan
datangnya taubat (pengampunan) Allah atas kami bertiga saat beliau selesai
shalat Subuh. Banyak orang pergi menemui kami untuk menyampaikan kabar gembira.
Sebagian mereka ada yang menemui dua kawan senasib saya, dan ada seseorang yang
ingin menemui saya dengan berkuda. Sementara itu ada seorang Bani Aslam yang
hanya berjalan kaki, lalu dia naik ke bukit dan meneriakkan kabar gembira pada
saya. Ternyata suara itu lebih cepat dari pada kuda. Setelah orang yang naik ke
bukit itu datang menemui saya untuk menyampaikan langsung, saya tang-galkan
pakaian saya dan saya hadiahkan untuknya sebagai imbalan atas kabar gembiranya.
Demi Allah, sebenarnya saya ini tidak mempunyai baju lagi selain itu. Akhirnya
saya meminjam baju orang, kemudian berangkat menemui Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam. Orang-orang datang berduyun-duyun mengucapkan selamat
atas kabar gembira ini. Mereka mengatakan, 'Selamat atas pengam-punan Allah
untukmu!' Setelah itu saya masuk ke dalam mesjid, di situ terlihat Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam sedang duduk di kelilingi banyak orang.
Tiba-tiba Thalhah bin Ubaidillah bangun dan menuju ke arah saya dengan setengah
lari. Dia menjabat tangan saya dan mengucapkan selamat. Tidak ada seorang pun
dari kaum Muhajirin yang bangun selain dia, dan saya tidak akan melupakannya.
Setelah saya mengucapkan salam kepada Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam, beliau berkata dengan wajah bersinar penuh kegembiraan,
'Bergembiralah dengan datangnya sebuah hari yang paling baik yang pernah engkau
lalui semenjak kau dilahirkan oleh ibumu.' 'Dari engkau atau dari Allah, ya
Rasulullah?' tanya saya. Beliau menjawab, 'Bukan dariku, tapi dari Allah.' Dan
demikianlah, bila Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sedang
gembira, wajah beliau bersinar seperti bulan. Kami semua tahu hal itu. Setelah
aku duduk tepat di hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, saya
berkata, 'Wahai Rasulullah, sebagai pertanda taubat ini, aku akan melepas semua
hartaku dan menjadikannya sebagai shadaqah untuk Allah dan RasulNya.' Rasulullah
menjawab, 'Ambillah sebagian dari hartamu, ini lebih baik untukmu.' Saya
berkata, 'Ya, aku akan mengambil jatahku yang aku dapatkan dari perang Khaibar.'
Setelah itu saya ungkapkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam, 'Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala telah
menyelamatkan aku dengan kejujuran, dan sebagai pertanda taubatku kepada Allah,
aku berjanji bahwa aku akan selalu berkata jujur selama hidupku. Demi Allah, aku
tidak mengetahui seorang muslim yang diuji oleh Allah dalam kejujuran
kata-katanya melebihi ujian yang aku dapatkan.'
Dan sejak aku ungkapkan hal itu kepada Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam, saya tidak pernah berdusta sampai hari
ini. Saya memohon semoga Allah tetap menjaga saya selama sisa hidup saya. Dan
Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan firmanNya kepada RasulNya:
"Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang
Muhajirin dan orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan.
Setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima
taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada
mereka dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka,
hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, dan
jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah
mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melain-kan kepadaNya
saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya.
Sesungguh-nya Allahlah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kalian bersama
orang-orang yang jujur." (At-Taubah: 117-119).
Demi Allah, tidak ada nikmat yang telah Allah karuniakan kepada
saya setelah nikmat hidayah Islam- yang lebih besar dari nikmat kejujuran saya
kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Saya tidak ingin
berdusta tapi kemudian binasa seperti binasanya orang-orang yang telah berdusta.
Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mem-berikan komentar tentang
orang-orang yang berdusta di dalam wahyu yang diturunkanNya- dengan kata-kata
yang sangat keras dan jelek.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Kelak mereka akan bersumpah kepdamu denga nama Allah
apabila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka itu
berpalinglah dari mereka, karena mereka itu adalah najis dan tempat mereka
adalah Jahannam, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. Mereka
akan bersumpah kepada-mu agar kamu rela kepada mereka. Tetapi, jika sekiranya
kamu rela kepada mereka, maka sesungguhnya Allah tidak rela kepada orang-orang
yang fasik itu." (At-Taubah: 95-96).
Ka'ab berkata:
"Kami bertiga tidak memperhatikan lagi orang-orang yang diterima alasan mereka setelah bersumpah kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian beliau menyumpah mereka dan memintakan ampun buat mereka, sementara itu beliau menangguhkan urusan kami sampai Allah sendiri yang memutuskan. Oleh karena itu Alah Subhanahu wa Ta'ala menyatakan,''(Dan Allah juga telah menerima taubat) tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka.''
"Kami bertiga tidak memperhatikan lagi orang-orang yang diterima alasan mereka setelah bersumpah kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian beliau menyumpah mereka dan memintakan ampun buat mereka, sementara itu beliau menangguhkan urusan kami sampai Allah sendiri yang memutuskan. Oleh karena itu Alah Subhanahu wa Ta'ala menyatakan,''(Dan Allah juga telah menerima taubat) tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka.''
Yang dimaksud dalam ayat ini bukanlah tidak ikut serta-nya kami
bertiga dalam perang, tetapi yang dimaksud adalah ditangguhkannya taubat kami
serta tidak diikutsertakannya kami pada kelompok orang-orang yang telah
ber-sumpah dan mengemukakan alasan dan diterima oleh Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam."

0 komentar:
Posting Komentar