Aksi guru di depan kelas dengan memukulkan penghapus kayu di papan tulis
hingga siswa kaget, memukulkan penggaris kayu di meja hingga hancur
berkepin-keping, mendobrak meja siswa hingga siswa seluruh kelas terperanjat,
membentak siswa dengan kata-kata kasar, mebenturkan pintu kelas, memukul siswa
dengan buku, menempeleng muka siswa, mengusir siswa keluar kelas, menghukum
siswa dengan hukuman phisik, dan menghina keadaan siswa baik hinaan phisisk maupun
non phisik.
Di bulan pebruari 2009, telah beredar video kekerasan pelajar di 3
daerah yaitu perkelaian siswa SMP di Jawa-Barat, perkelaian dua siswa SLTA di
Gorontalo dan yang terakhir perkelaian 2 siswi di Timika Papua yang difasilitasi oleh gurunya.
Namun kita tentu masih ingat perkelaian siswi-siswi SLTA di Pati yang terkenal dengan nama Geng Nero.
Apa ada yang salah, Kurikulun Pendidikan Nasional…?
Sekolah mestinya tempat belajar, berteman, bermain, mengembangkan
kreativitas dan untuk mamahami jati diri.
Tuntutan orang tua agar anaknya selalu juara kelas, tuntutan gurunya
agar semua siswanya menjadi penurut dan bernilai bagus, tuntutan kepala sekolah
agar siswanya lulus 100%. Disekolah tak ubahnya seperti kamp penampungan
sandra, siswa di paksa menuruti kehendak guru, beban pelajaran yang terlalu
banyak dan berat serta system pembelajaran yang otoriter dan represif.
Kondisi ekonomi Negara yang morat-marit, memicu orang tua siswa untuk
kerja keras dan dalam rangka emansipasi bagi seorang ibu, menjadikan orang tua
siswa menyerahkan sepenuhnya pendidikan kepada pihak sekolah. Seakan yang
menentukan watak dan sikap adalah sekolah. Siswa disekolah hanya beberapa jam,
sementara orang tua dirumah jarang ketemu anaknya. Rumah tak terlalu beda dengan
halte bus, tempat bertemu dan bercengkrama sementara antara bapak, ibu dan
anaknya.
Tak dipungkiri bahwa kemajauan teknologi
informasi seperti HP, TV, Internet dan media masa lainnya sangat mempengaruhi
perubahan watak pelajar. Pelajar metropolitan dan pelajar daerah terpencil tak
ada bedanya. Kecepatan media informasi begitu mudah menyebar ke segala lapisan
masyarakat, dan tingkat kemampuan filter sangat beragam. Hal ini menjadikan
hasil terjemahan informasi yang berbeda-beda. Orang tua yang mestinya membantu
menterjemahkan informasi, malahan orang tua menyerahkan sepenuhnya kepada
anaknya sendiri atau kepada pembantunya.
Menurut Prof. Kurt Singer dari Universitas Munchen Jerman, fenomena ini
sebagai “Sekolah Sakit”. Sekolah sebagai alat sensor, guru selalu mengawasi
dengan tanpa batas etika-psikologis, perintah sekolah menjadi dictator dan
mematikan bakat, sekolah menjadi pengadilan yang penuh hukuman, sehingga siswa
menjadi ketakutan dan penuh ancaman. fenomena ini disebut Kurt Singer sebagai
Schwarzer Paedagogik atau Pedagogi Hitam (Sindhunata, 2001). (Suara Merdeka, 19
Juni 2008).
Guru yang belum bisa menikmati kesejahteraannya sebagai guru, namun
beban kerja sangat berat. Guru yang mendapat tugas dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa dengan membentuk watak, mengajari membaca, mengajari berpikir,
melatih kreativitas, namun belum mendapatkan penghargaan layak secara materi.
Bahkan guru yang masih honor, penghasilannya sangat jauh di banding upah UMR
buruh pabrik. Gaji yang sangat kecil, masih ada potongan-potongan yang tidak
jelas peruntukannya. Penghargaan yang lebih mulia bagi guru adalah gelar
“Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”, tetapi penghargaan ini tidak membuat perut guru
dan keluarganya menjadi kenyang.
0 komentar:
Posting Komentar