Penulis: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin
Rawiyah
Menjadi
keluarga sakinah, adalah hal yang diidamkan setiap pasangan yang hendak
membangun rumah tangga. Sesuatu yang tidak mudah, namun tak mustahil untuk
diwujudkan. Apa kuncinya?
Bahtera
rumah tangga membutuhkan nakhoda yang mengerti tujuan dan arah berlayar, diikuti
para awak yang memiliki kesabaran yang tangguh dan teruji, yang siap diatur oleh
sang nakhoda. Sebagaimana bahtera yang mengarungi samudra yang luas akan
menghadapi arus dan gelombang yang menggunung, begitu pula bahtera berumah
tangga. Akan banyak ujian dan cobaan di dalamnya. Banyak kerikil-kerikil tajam
dan duri-duri yang menusuk peraduan.
Dahsyatnya
ujian tersebut menyebabkan banyak bahtera rumah tangga yang kandas dan tidak
bisa berlabuh lagi, bahkan hancur berkeping-keping. Sang istri ditelantarkan
dengan tidak dididik, bahkan tidak diberikan nafkah. Sehingga muncul awak-awak
bahtera yang tidak taat kepada nakhoda. Awak yang tidak mengerti tugas dan
kewajibannya, berjalan sendiri dan mencari kesenangan masing-masing. Inilah
pertanda kecelakaan dan kehancuran. Sang anak dibiarkan seakan-akan tidak
memiliki ayah, sebagai seorang pemandu dan pembela yang akan mengarahkan dan
melindungi. Seakan-akan tidak memiliki ibu, yang akan memberikan luapan kasih
sayang dan perhatian yang dalam. Masing-masing berjalan pada keinginan dan
kehendaknya, tidak merasa adanya keterikatan dengan yang lain. Sang nakhoda
berjalan di atas dunianya, sang istri dan sang anak di atas dunia yang lain.
Saling tuduh dan saling vonis serta saling mencurigai akan terus berkecamuk,
berujung dengan perpisahan. Akankah gambaran keluarga tersebut mendapatkan
ketenangan, ketentraman, dan kebahagiaan? Bahkan itulah pertanda malapetaka yang
besar dan dahsyat.
Memang
problem dalam berumah tangga adalah sebuah suratan taqdir yang mesti ada dan
terjadi. Akan tetapi Allah Subhanahu wa ta'ala telah menurunkan syariat-Nya
untuk membimbing ke jalan yang diridhai dan dicintai-Nya. Jalan yang akan
mengakhiri problem tersebut. Sebuah suratan yang tidak akan berubah dan tidak
akan dipengaruhi oleh keadaan apapun. Mungkin kita akan menyangka, suratan
taqdir tersebut tidak akan menimpa orang-orang yang taat beribadah dan
orang-orang mulia di sisi Allah Subhanahu wa ta'ala. Tentu tidak demikian
keadaannya. Nabi Nuh 'alaihissalam berseberangan dengan istri dan anaknya. Nabi
Luth 'alaihissalam dengan istrinya yang jelas-jelas mendukung perbuatan keji dan
kotor: laki-laki “mendatangi” laki-laki. Hal ini telah diceritakan oleh Allah
Subhanahu wa ta'ala di dalam firman-Nya:
ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً لِلَّذِينَ كَفَرُوا اِمْرَأَةَ
نُوحٍ وَامْرَأَةَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ
فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلاَ
النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ
“Allah
membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir.
Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shalih di antara
hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya
(masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari
(siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): ‘Masuklah ke dalam Jahannam
bersama orang-orang yang masuk (Jahannam)’.” (At-Tahrim: 10)
Ujian
dalam berumah tangga tentu akan lebih besar dibanding ujian yang menimpa
individu. Hal ini telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala dalam
firman-Nya ketika menjelaskan tujuan ilmu sihir dipelajari dan
diajarkan:
فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ
الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ
“Maka
mereka mempelajari dari keduanya, apa yang dengan sihir itu, mereka dapat
mencerai-beraikan antara seorang (suami) dengan istrinya.” (Al-Baqarah:
102)
Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ
يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً،
يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا. فَيَقُولُ: مَا صَنَعْتَ
شَيْئًا. قَالَ: ثُمَّ يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى
فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ. قَالَ: فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ:
نِعْمَ أَنْتَ. قَالَ اْلأَعْمَشُ: أُرَاهُ قَالَ: فَيَلْتَزِمُهُ
“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas
air, kemudian dia mengutus bala tentaranya. Yang paling dekat kedudukannya
dengan Iblis adalah yang paling besar fitnahnya. Datang kepadanya seorang
tentaranya lalu berkata: ‘Aku telah berbuat demikian-demikian.’ Iblis berkata:
‘Engkau belum berbuat sesuatu.’ Dan kemudian salah seorang dari mereka datang
lalu berkata: ‘Aku tidak meninggalkan orang tersebut bersama istrinya melainkan
aku pecah belah keduanya.’ Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata: ‘Lalu
iblis mendekatkan prajurit itu kepadanya dan berkata: ‘Sebaik-baik pasukan
adalah kamu.’ Al-A’masy berkata: ‘Aku kira, (Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam)
berkata: ‘Lalu iblis memeluknya.” (HR. Muslim no. 5302)
Bila iblis
telah berhasil menghancurkannya, kemana sang anak mencari kasih sayang? Hidup
akan terkatung-katung. Yang satu ingin mengayominya, yang lain tidak
merestuinya. Alangkah malang nasibmu, engkau adalah bagian dari korban Iblis dan
bala tentaranya.
Kalau
demikian keras rencana busuk Iblis terhadap keluarga orang-orang yang beriman,
kita semestinya berusaha mencari jalan keluar dari jeratan dan jaring yang
dipasang oleh Iblis, yaitu dengan belajar ilmu agama.
Bahkan
keluarga terbaik, mulia dan dibangun oleh seorang terbaik, imam para nabi dan
rasul, Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam bersama Ummahatul Mukminin, juga
tak lepas dari duri-duri dalam berumah tangga. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam pernah marah kepada istri beliau ‘Aisyah dan Hafshah, sampai beliau
memberikan takhyir (pilihan) kepada keduanya dan kepada istri-istri beliau yang
lain: apakah tetap bersama beliau ataukah memilih dunia. Kemudian seluruh istri
beliau lebih memilih bersama beliau. (lihat secara detail kisahnya dalam riwayat
Al-Imam Al- Bukhari no. 4913, 5191 dan Muslim no. 1479)
Cerita
menantu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, ‘Ali bin Abu Thalib
radhiyallahu 'anhu bersama putri beliau Fathimah radhiyallahu 'anha –dan kita
mengetahui kedudukan beliau berdua di dalam agama ini– juga tidak terlepas dari
kerikil-kerikil berumah tangga.
Telah
diceritakan oleh Sahl bin Sa’d As-Sa’idi radhiyallahu 'anhu, dia berkata: “Nama
yang paling disukai oleh ‘Ali adalah Abu Turab. Dia senang sekali dengan nama
yang diberikan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam itu. Suatu hari,
‘Ali marah kepada Fathimah, lalu dia keluar dari rumah menuju masjid dan
berbaring di dalamnya. Bertepatan dengan kejadian tersebut Rasulullah datang ke
rumah putrinya, Fathimah, namun beliau tidak mendapatkan ‘Ali di rumah. “Mana
anak pamanmu itu?”, tanya beliau. “Telah terjadi sesuatu antara aku dan dia, dan
dia marah padaku lalu keluar dari rumah. Dia tidak tidur siang di sisiku,” jawab
Fathimah. Rasulullah berkata kepada seseorang: “Lihatlah di mana Ali.” Orang
yang disuruh tersebut datang dan mengabarkan: “Wahai Rasulullah, dia ada di
masjid sedang tidur.” Rasulullah mendatanginya, yang ketika itu ‘Ali sedang
berbaring dan beliau dapatkan rida`-nya (kain pakaian bagian atas) telah jatuh
dari punggungnya. Mulailah beliau mengusap pasir dari punggungnya seraya
berkata: “Duduklah wahai Abu Turab. Duduklah wahai Abu Turab.” (HR. Al-Bukhari
no. 3703 dan Muslim no. 2409)
0 komentar:
Posting Komentar