Publikasi 12/03/2002 07:25 WIB
|
|
|
|
eramuslim
- Salah satu masalah yang tidak pernah tuntas didiskusikan adalah wanita, ia
menjadi isu sosial yang menarik sejak zaman dahulu, sekarang dan masa yang akan
datang. Masalah itu tetap tidak akan tuntas, karena wanita telah diperlakukan
dan memperlakukan dirinya tidak sesuai dengan fitrah mereka, wanita di hinakan,
dipuja dan tuntutan kesetaraan disegala bidang yang sering dikenal dengan
istilah emansipasi dan karirisasi tidak pernah menemukan titik temu dengan hukum
Allah.
Beragam Pandangan Tentang Wanita
Dalam sejarah perjalanan umat manusia, sikap ambivalen terhadap posisi wanita tidak pernah berakhir. Hal ini merupakan provokasi dari kaum sekular, pemahaman salah dari agama -agama ghairul islam (non Islam) filsafat serta kepentingan politik.
Dalam sejarah perjalanan umat manusia, sikap ambivalen terhadap posisi wanita tidak pernah berakhir. Hal ini merupakan provokasi dari kaum sekular, pemahaman salah dari agama -agama ghairul islam (non Islam) filsafat serta kepentingan politik.
Di salah satu pihak mereka
sangat menghinakan wanita dengan mengatakan sabar yang terpaksa, angin yang
jahat, maut, neraka jahim, ular berbisa, dan api tidaklah lebih berbahaya dari
pada wanita, hal ini merupakan pandangan agama Hindu terhadap wanita. Wanita
dianggap makhluk yang berbahaya melebihi ular berbisa. Agama Yahudi tidak
memberikan tempat terhomat kepada wanita, dalam pandangan agama ini wanita tidak
mempunyai hak kepemilikan, hak waris, makhluk yang terkutuk.
Selanjutnya agama Kristen
tidak kalah memandang hina terhadap wanita, seperti yang dikatakan pendeta Paus
Tertulianus, “Wanita merupakan pintu gerbang syeitan, masuk ke dalam diri
laki-laki untuk merusak tatanan Ilahy dan mengotori wajah Tuhan yang ada pada
laki-laki.” Sedangkan Paus Sustam mengatakan, “Wanita secara otomatis membawa
kejahatan, malapetaka yang mempunyai daya tarik, bencana terhadap keluarga dan
rumah tangga, kekasih yang merusak serta malapetaka yang menimbulkan
kebingunggan.”
Rata-rata agama non Islam
tersebut hanya memandang wanita sebagai seonggok jasad yang siap menghancurkan
laki-laki, mereka tidak menghormati wanita, padahal mereka lahir dari rahim para
wanita, benar-benar aneh!!!.
Di sisi lain wanita sangat
didewakan, disanjung dan dipuja, namun hanya sebatas pemuasan dahaga dan nafsu
seksual kaum laki-laki saja. Walaupun mendapatkan kedudukan “terhormat” dan
kebebasan atas hak asasinya, namun tetap saja wanita mengalami kesengsaraan,
karena wanita dihormati hanya sebatas kemolekan tubuh dan masalah seksual
belaka, yang pada akhirnya meraka tetap beranggapan wanita hanyalah sebagai
sampah, habis manis sepah dibuang.
Lain halnya dalam pandangan
agama Islam, laki-laki dan perempuan mempunyai kedudukan yang sama. Keduanya
mendapat pahala yang sama di sisi Allah sesuai dengan tingkatan iman dan amal
yang mereka lakukan, hal ini dikatakan Allah dalam
surat Al-Mukmin ayat 40, “Barang siapa yang beramal sholeh
baik laki-laki maupun perempuan sedangkan mereka beriman, maka mereka akan masuk
surga dengan tiada terhingga.”
Islam menjunjung tinggi
derajat wanita, ia ditempatkan pada posisi yang sangat terhormat di dunia ini,
tidak ada yang boleh menghinakannya karena dalam hadis telah dikatakan “Syurga
itu terletak di bawah telapak kaki ibu” (HR. Ahmad), Bahkan Rasul mengatakan
wanita itu lebih berharga dari keindahan seluruh isi alam ini, “Dunia ini adalah
perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholehah.” (HR. Muslim).
Untuk menjaga kesucian serta
ketinggian derajat dan martabat kaum wanita, maka dalam kehidupan sehari-hari
Islam memberikan tuntunan dengan ketentuan hukum syariat yang akan memberikan
batasan dan perlindungan bagi kehidupan wanita, semuanya itu untuk kebaikan
wanita, agar tidak menyimpang dari apa yang telah digariskan Allah terhadap
dirinya, semuanya merupakan bukti bahwa Allah itu Ar-Rahman dan Ar-Rahim
terhadap seluruh hamba-hamba-Nya.
Propaganda Emansipasi dan Karirisasi
Gerakan emansipasi tumbuh sejak awal abad XX. Anehnya propaganda gerakan ini justru munculnya dari laki-laki dan hanya terdapat sedikit saja wanita. Awalnya emansipasi hanyalah seruan kepada pemerintah untuk memperhatikan kesempatan pendidikan akademis bagi wanita. Seruan ini cukup mendapat simpati karena aktivitasnya mengarah kepada peningkatan kecerdasan, keleluasaan generasi baru yang lebih cakap dan berkualitas.
Gerakan emansipasi tumbuh sejak awal abad XX. Anehnya propaganda gerakan ini justru munculnya dari laki-laki dan hanya terdapat sedikit saja wanita. Awalnya emansipasi hanyalah seruan kepada pemerintah untuk memperhatikan kesempatan pendidikan akademis bagi wanita. Seruan ini cukup mendapat simpati karena aktivitasnya mengarah kepada peningkatan kecerdasan, keleluasaan generasi baru yang lebih cakap dan berkualitas.
Namun seiring perkembangan
zaman mereka tidak saja menyerukan pentingnya mendapatkan pendidikan, tapi
dengan berkedok emansipasi mereka mulai meneriakkan persamaan derajat,
kebebasan, peningkatan karier di segala bidang (karirisasi). Terjadilah gerakan
besar-besaran untuk mendapatkan kesempatan agar bisa tampil di luar, bekerja dan
melakukan aktivitas apa saja layaknya laki-laki. Dengan alasan wanita yang
tinggal di rumah adalah wanita yang terpasung eksistensi dirinya, tidak
menunjang usaha produktivitas, wanita secara intelektual sama dengan laki-laki,
dengan hanya menjadi ibu rumah tangga dianggap wanita kehilangan partisipasi
dalam masyarakat.
Mereka meneriakkan
emansipasi dan karirisasi. Karena bagi mereka apa yang dikerjakan laki-laki
dapat pula dikerjakan oleh perempuan. Mereka menyamakan segala hal antara
laki-laki dan perempuan, padahal kita tidak dapat menutup mata ada hal-hal
mendasar -mungkin mereka lupa- tidak akan mungkin dapat
disamai.
Wanita karier, begitu kita
sering mendengar istilah ini. Disebut wanita karier karena dalam sehari-hari
mereka berjejel di lapangan kerja yang seharusnya menjadi pekerjaan laki-laki.
Ciri-ciri wanita karier ini menurut seorang penulis di Inggris adalah, mereka
tidak suka berumah tangga, tidak suka berfungsi sebagai ibu, emosinya berbeda
dengan wanita non karier, dan biasanya menjadi wanita
melankolis.
Disadari ataupun tidak,
timbul dilema baru dalam dirinya dan kemelut berkepanjangan di dalam masyarakat.
Mereka harus bekerja banting tulang untuk mencari nafkah yang seharusnya
merupakan tugas laki-laki. Laki-laki menjadi kehilangan kesempatan pekerjaan
karena diserobot wanita karier, hal ini menimbulkan masalah psikologis
tersendiri bagi laki-laki.
Informasi mengenai gerakan
emansipasi dan karirisasi mendapatkan porsi publikasi politis dan bisnis secara
besar-besaran. Oleh karena itu bagi mereka yang dicurigai menghalangi gerakan
emansipasi disebut sebagai diskriminasi gender. Biasanya agama sering dijadikan
kambing hitam sebagai media yang menghalangi gerakan tersebut, bahkan ada yang
berani menghujat agama Islam merupakan agama yang mengekang kemajuan wanita.
Dan anehnya mereka yang
mengaku muslim tidak sedikit yang menunjukkan perlawanan terhadap aturan syariat
yang di buat Allah. Aneh memang, padahal sudah jelas-jelas tanpa Islam, wanita
tidak akan pernah maju, dulu, sekarang dan masa yang akan datang. Bisa
dibandingkan bagaimana Islam menempatkan wanita pada posisi yang sangat
terhormat, sedangkan agama lain, apa yang ia katakan terhadap perempuan, mereka
hanya menganggap perempuan sebagai keranjang sampah, hina dan menyesatkan.
Seharusnya kita jujur, tanpa
kedatangan Islam wanita tidak akan pernah seperti sekarang. Lalu masihkan kita
berani mengatakan Islam menyebabkan wanita-wanita terbelakang? Sungguh pemikiran
bodoh yang tidak memiliki dasar sama sekali.
Wanita Bekerja, Why Not?
Nyonya Jane Martan Seasih Duta Besar Gresia untuk PBB mengatakan “Melahirkan adalah fungsi utama seorang wanita, wanitalah yang menangani pendidikan anak-anaknya.” Memang sudah fitrahnya wanita memiliki empat keistimewaan yang tidak dimiliki laki-laki, haid, hamil, melahirkan, menyusui. Kempat fungsi ini mempengaruhi sifat dan tingkah laku wanita dalam masyarakat. Fungsi ini tidak akan bisa digantikan oleh laki-laki, namun ada pekerjaan laki-laki sekarang yang banyak digantikan oleh wanita, yaitu mencari nafkah.
Nyonya Jane Martan Seasih Duta Besar Gresia untuk PBB mengatakan “Melahirkan adalah fungsi utama seorang wanita, wanitalah yang menangani pendidikan anak-anaknya.” Memang sudah fitrahnya wanita memiliki empat keistimewaan yang tidak dimiliki laki-laki, haid, hamil, melahirkan, menyusui. Kempat fungsi ini mempengaruhi sifat dan tingkah laku wanita dalam masyarakat. Fungsi ini tidak akan bisa digantikan oleh laki-laki, namun ada pekerjaan laki-laki sekarang yang banyak digantikan oleh wanita, yaitu mencari nafkah.
Dalam perspektif Islam
wanita tidak dibebani mencani nafkah, baik untuk dirinya sendiri apalagi untuk
orang lain, yang bertanggung jawab adalah ayahnya jika ia belum berkeluarga,
suaminya jika ia telah berkeluarga, saudara laki-laki dan pamannya jika ayah dan
suaminya tidak ada. Dispensasi ini akan memberikan peluang kepada wanita untuk
dapat mendidik anak-anaknya, mengurus suaminya, sehingga dapat dilindungi dari
pelecehan atau penistaan.
Namun wanita bekerja dan
mendapatkan penghasilan untuk membantu meringankan beban keluarga bukanlah
sesuatu yang haram. Pada prinsipnya Islam mengarahkan kaum wanita supaya dalam
bekerja harus mengutamakan tugas fitrahnya, yaitu mengurus rumah tangga dan
mendidik anak-anaknya agar kelak dapat dipersiapkan menjadi penerus risalah yang
dibawa Rasul.
Ia tidak melanggar fitrah
dan syariat yang telah ditetapkan, hendaklah ia tetap menjaga kehormatan
keluarga, sehingga tidak muncul peluang bagi kerusakan moral dan tersebarnya
fitnah terhadap wanita di tengah masyarakat.
Adapun pekerjaan yang
dilakukan itu hendaknya memenuhi syarat-syarat berikut, pekerjaan yang dilakukan
benar-benar membutuhkan penanganan dan sesuai fitrah wanita, misalnya dokter
kandungan, perawat, guru, dosen. Dalam pelaksanaanya, tidak bercampur baur
dengan laki-laki. Jam kerja yang dilakukan tidak melebihi kewajiban pokoknya
mengurus keluarga. Syarat lainya adalah adanya persetujuan dari ayah, suami atau
saudara laki-laki yang bertanggungjawab terhadap wanita
tersebut.
Dengan memperhatikan aturan
tersebut, wanita tetap dapat menjaga jati dirinya sebagai hamba Allah yang
shalihah. Ia tidak akan melanggar syariat dan fitrah dirinya. Ia akan tetap
menjaga harkat dan matrabat diri dan keluarganya, sehingga kemampuan dan ilmu
yang ada pada dirinya dapat bermanfaat untuk orang lain, ia pun dapat membantu
meringankan beban keluarga tanpa harus mengorbankan harga dirinya.
(yelsandra@yahoo.com)
0 komentar:
Posting Komentar